Jumat, 27 November 2015

Kompleks Candi Arjuna, Perjalanan ke Dieng, dan Kodrat Manusia

Perjalanan Dieng sebenarnya sudah dituntaskan oleh Tim Supratraveling nyaris setahun lalu. Dan sebenarnya ada perjalanan-perjalanan berkaitan dengan hal-hal supranatural dan spiritual. Namun, setelah menimbang-nimbang, kami merasa lebih tepat bila kami memulai postingan Supratraveling dengan Dieng, yang terletak di Wonosobo, Jawa Tengah.


Mengapa Dieng?

Pertanyaan itu pasti terlontar di batin kawan. 

Alasan kami adalah karena sejarah Dieng itu sendiri dan petunjuk (baca: wangsit) yang didapat oleh salah seorang anggota Tim Supratraveling.

Dieng Plateu, sumber ilustrasi: di sini.

Meski perjalanan ini secara fisik kami lakukan setahun lalu, secara metafisik, salah seorang anggota Tim Supratraveling telah mengunjungi daerah wisata yang memiliki candi-candi dengan nama berasal dari epos Mahabarata ini bertahun-tahun lalu. Menurut cerita anggota Tim Supratraveling tersebut, ia tertarik kemudian berada di tengah Kompleks Candi Arjuna, Dieng. Anggota Tim Supratraveling tersebut sudah mencurigai bahwa tempat yang ia kunjungi tersebut berada di Dieng. Namun, ia baru yakin setelah "tanpa sengaja" melihat tayangan wisata Dieng di televisi dan foto yang dikirim oleh salah seorang temannya yang gemar traveling.

Dalam penglihatan anggota Tim Supratraveling tersebut, ia bertemu dengan salah seorang keturunan anggota kerajaan tersohor di Jawa Barat yang meminta bantuannya untuk memindahkan sebuah patung di Kompleks Candi Arjuna. Bila terkena matahari patung tersebut akan hidup dan bergerak layaknya manusia. Namun, sebelum bisa membawa patung tersebut jauh, anggota Tim Supratraveling dan keturunan anggota kerajaan tersohor di Jawa Barat tersebut tertangkap basah oleh salah seorang penjaga Dieng. Namun, alih-alih dipenjara atau menerima hukuman yang keras, anggota Tim Supratraveling tersebut hanya dipisahkan dari keturunan anggota kerajaan tersohor di Jawa Barat itu. Anggota Tim Supratraveling tersebut malah dimasukkan ke dalam semacam asrama pendidikan bersama beberapa orang lainnya.

Dan perjalanan metafisika anggota Tim Supratraveling berhenti di sana.

Ketika apa yang dilihatnya itu diceritakan pada Tim Supratraveling yang lain, pada saat itu juga diputuskan bahwa kami harus pergi ke Dieng guna melihat dan "melihat" apa sebenarnya yang ada di sana, serta mengapa anggota Tim Supratraveling tersebut melihat Kompleks Candi Arjuna, Dieng, Wonosobo.

Sayangnya, karena satu-dua hal mereka yang kemudian tergabung dalam Tim Supratraveling baru bisa mewujudkan Perjalanan Dieng pada 11-13 Desember 2014.

Lucunya, tak seorang pun anggota perjalanan Dieng yang pernah mengunjungi kawasan dataran tinggi ini, atau mengetahui di mana letak pastinya. Berbekal mulut dan kepercayaan diri, kami bertujuh pun berangkat dari Surabaya menuju Dieng, Wonosobo.

Arti Nama Dieng, Wonosobo

Menurut Wikipedia, ada beberapa makna Dieng dan asal namanya.

1. Penamaan Dieng berakar dari dua kata dalam bahasa Kawi: "di" (tempat atau gunung) dan "Hyang" (dewa), yang bermakna bahwa Dieng adalah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam.

2. Penamaan Dieng berasal dari bahasa Sunda "di hyang", sebab menurut perkiraan beberapa ahli sejarah, daerah Wonosobo sedang berada di bawah pengaruh Kerajaan Galuh pada sekitar abad ke-7 Masehi.

Sementara itu, menurut Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa) yang saya punya, makna Wonosobo sendiri berakar dari dua kata: "wono/wana" (hutan) dan "sobo" (berkelana; mencari makan dengan menaiki hewan; sering mendatangi). Namun, kata "sobo" sendiri dalam bahasa Jawa klasik (Kawi, Sansekerta, bahasa rinengga) berarti tempat berkumpulnya beberapa orang; alun-alun; pelataran.

Kami sendiri menarik kesimpulan bahwa Wonosobo ada hutan yang sering didatangi orang-orang, sehingga tak ubahnya menjadi pelataran, tempat berkumpulnya orang-orang. Baik orang-orang yang fisiknya terlihat, maupun tidak. Hal ini bisa jadi karena Wonosobo sendiri adalah hutan yang menghubungkan tempat tinggal manusia dengan pegunungan tempat tinggal para dewa-dewi.

Dari keterangan nama ini, ketika berkunjung ke Dieng, Wonosobo, kita wajib untuk menjaga diri (sikap, pikiran, mental, dan kata) dan tidak hanya larut dalam mengagumi keindahan yang ditampilkan Yang Maha Esa di salah satu sudut bumi ini.

Kompleks Candi Arjuna dan Cerminan Kesejatian Diri Manusia

Ada banyak candi di Dieng dan kawan mungkin pernah mengunjungi setiap candi yang ada. Namun, di antara semuanya, harus diakui bahwa Kompleks Candi Arjuna adalah candi yang paling menarik perhatian. Ini bukan hanya karena fakta kompleks candi tersebut dinamakan dengan nama tokoh lelanang ing jagat, atau karena letaknya yang berdekatan dengan pintu  masuk bagian bawah. Tetapi, lebih sosok Arjuna itu sendiri secara khusus, dan para Pandawa secara umum. 

Meski diceritakan sebagai sosok individu, tetapi Pandawa bukan sekadar gambaran karakter manusia per orangan, tetapi sebuah kesatuan tahapan proses perkembangan diri dan penemuan kesejatian diri. Juga seperti kelengkapan anggota tubuh manusia, yang kesemuanya harus saling mendukung. Demikian pula dengan para Pandawa. Oleh karena itu, sebelum menerangkan tentang sosok Arjuna, kami akan menjelaskan tentang Pandawa dan mengapa mereka diceritakan begitu akrab dan sehati, bak satu kesatuan anggota tubuh.



Sebagai sulung dari Pandawa, moksanya Yudhistira adalah lambang dari hasil akhir perjalanan Bima dan keinginannya menyempurnakan hidup. Umumnya tokoh kerajaan yang memiliki nama sesuai dengan julukan dan perkembangan hidup mereka, begitu juga dengan Bima. Salah satu nama lain Bima dalam pewayangan Jawa adalah Brontoseno. Tentu saja, karena ini adalah pewayangan Jawa, tentu saja ada makna tersembunyi (perumpamaan) dari nama lain Bima ini, yaitu "bronto" karep atau kemauan, sedangkan "seno" yang diambil dari kata isenono atau isilah. Dengan kata lain, jika kita memiliki kemauan, hendaknya kita mengisinya dengan tujuan. Bukan sekadar menjalankan kemauan itu. 

Sementara itu, penengah Pandawa, Arjuna, lebih digambarkan sebagai sosok yang gemar bertapa dan mencari ilmu. Namun, dia juga kerap menemukan aral rintangan; setiap kali Arjuna menyelesaikan meditasinya dan turun dari pertapaan, dia selalu dihadang oleh raksasa. 

Jika kita memaknai lebih dalam peristiwa yang kerap menimpa Arjuna ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa raksasa adalah dampak dari apa yang telah dijalani oleh Arjuna (mencari ilmu dan bertapa). Agar bisa mengingat dan mengamalkan ilmu dengan baik, tentu saja harus ada ujian yang dihadapi oleh Arjuna. Hal ini tidak jauh berbeda dengan kehidupan kita sebagai manusia umumnya. Maka, secara hakikat, penengah Pandawa mengingatkan bahwa sebagai manusia kita harus mampu berdiri di tengah--antara siapa diri kita dan apa yang harus kita lakukan, serta siapa orang di sekitar kita. Agar seperti Arjuna, kita mampu menyatukan antara 4 saudara lainnya.

Sosok Arjuna juga mencerminkan sosok laki-laki sejati, sosok lelanang ing jagad, yang mampu mengayomi serta bertanggung jawab dengan apa yang telah diputuskannya. Namun, sosok Arjuna sendiri bukan hanya cerminan bagi kaum laki-laki. Jika seorang perempuan mampu bersikap seperti Arjuna, bersikap layaknya ksatria, bertanggung jawab, serta memimpin dirinya--maka dia pun bisa menjadi seperti Arjuna. Layaknya Srikandi yang mampu menebas segala keterbatasan yang ada pada zamannya. Karena sesungguhnya setiap manusia adalah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri. 

Bagaimana kita menyatukan diri untuk kemudian menjadi seperti sosok Arjuna?

Selain melihat dan meniru sifat Arjuna yang lembut, tetapi tegas sekaligus konsekuen dengan sikap dan kata-katanya--kita bisa melihat sosok si kembar dalam Pandawa: Nakula-Sadewa. Keduanya nyaris selalu bersama dan tak pernah lepas antara satu sama lain. Kedekatan hubungan Nakula-Sadewa adalah gambaran antara yang di dalam diri (pikiran dan hati) dan di luar diri (sikap, tindakan, dan ucapan) yang harus selalu selaras. Tak ubahnya seperti sosok Nakula-Sadewa, yang selalu seiya-sekata. 

Selain itu, sebagai umat beragama Islam, kita juga bisa menilik dari jumlah Pandawa yang dan posisi Arjuna sebagai anak ketiga Prabu Pandu. Jumlah yang sama dengan jumlah Pandawa adalah rukun Islam. Dan poin ketiga dalam rukun Islam adalah zakat. Oleh karena itu, agar kita mampu menemukan dan menjalankan kodrat kita sebagai manusia (rahmat bagi alam), sudah selayaknya kita berzakat. Bukan hanya beberapa kali setahun, tetapi menjadikannya sebagai salah satu sikap hidup--yang dalam tata aturan Jawa dikenal dengan sifat dana weh-weh (suka memberi).

Sikap memberi zakat (dana weh-weh) dapat menjadi bekal kita untuk melangkah ke arah yang lebih dalam di dalam kehidupan ini. Demi merajut keinginan menuju kebaikan hanya Al Qur'an sebagai petunjuk sekaligus penerang untuk ke depannya sekaligus tongkat. Sebab di dalam Al Qur'an ada banyak ayat yang mampu memberi jalan, baik ketika kita mempunyai keinginan maupun sedang menghadapi kesulitan.

Sesungghnya hidup ini penuh dengan perumpamaan. Yang Maha Esa membekali kita dengan piranti adalah agar kita bisa menggunakannya sesuai dengan yang kebutuhan, tanpa melulu menengadahkan tangan meminta-minta.

Akhir Kata untuk Kompleks Candi Arjuna dan Perjalanan Menuju Dieng

Berbeda dengan perjalanan metafisik yang mengizinkan seseorang tiba di tempat tujuannya tanpa tersesat atau mengalami perjalanan panjang, kami menghabiskan waktu kurang lebih 11 jam untuk sampai ke Dieng.

Sejatinya, perjalanan Surabaya-Dieng hanya membutuhkan waktu 8 jam. Tetapi tim yang kelak menjadi Tim Supratraveling ini menghabiskan banyak waktu berputar-putar dan tersesat di jalan. Sekilas, hal ini memang sesuatu yang biasa dialami oleh kebanyakan orang yang melakukan traveling: berputar-putar dan tersesat sebelum sampai tujuan. Namun, anehnya kami mengalami hal serupa saat perjalanan pulang. Padahal jalan dan rute yang kami ambil sama.

Pengalaman perjalanan Tim Supratraveling, yang sering tersesat dan berputar-putar, dapat dimaknai bahwa untuk mencapai keinginan tidaklah semudah sewaktu kita bercerita atau membayangkan. Kita kerap berputar dan tersesat ketika ingin mencapai tujuan dan menuntaskan impian. Kita tersesat karena sering terbujuk dan tergiur apa yang sebenarnya bukan tujuan kita, sehingga alih-alih segera mencapai apa yang kita tuju, kita malah terjebak di beberapa hal lain. Di sinilah kita harus jeli dalam menggapai ilmu-Nya yang disampaikan dan diselipkan dengan lembut dan samar dalam tiap peristiwa kehidupan, termasuk sehari-hari yang sering kita alami. 


Jika kawan traveler penasaran dengan pengalaman perjalanan fisik tim-yang-kelak-bernama Tim Supratraveling, kawan bisa mengintipnya di sini:
- Dieng: Sebentuk Nirwana di Indonesia - Edisi Kompleks Candi Arjuna
- Dieng: Sebentuk Nirwana di Indonesia - Edisi Setyaki dan Pesona Alam Dieng



Salam,
Niratisaya dan Tsaidun
Perwakilan Tim Supratraveling

Kamis, 19 November 2015

First Post: Supratraveling Team's Ready to Soar

Halo!


Ini adalah posting pertama Tim Supratraveling. Jadi, tentu saja, sudah fardhu hukumnya bagi kami untuk memperkenalkan diri tentang apa supratraveling dan siapa kami.


Apa itu Supratraveling?
Dari nama tim kami, mungkin pembaca bisa menebak bahwa blog ini adalah tentang hal-hal supranatural dan hubungannya dengan traveling. Dan tebakan itu tidak salah. Kami adalah sekelompok penikmat keindahan alam yang diciptakan Tuhan. Tapi yang membedakan kami, Tim Supratraveling, dari traveler lain adalah kebanyakan perjalanan yang kami lakukan adalah karena isyarat dan dorongan batin.

Bukan hanya menjawab keinginan hati untuk melepas penat dan kejenuhan dalam menghadapi keseharian hidup. Meski faktanya seluruh anggota Tim Supratraveling adalah pekerja dan wiraswasta, yang notabene bekerja dari 7 pagi sampai 5 sore. Beberapa bahkan nyaris bekerja seharian penuh.



Kenapa kami menggabungkan supranatural dan traveling?

Pertama, karena kami ingin selalu dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Kedua, karena setelah melakukan puluhan perjalanan, kami akhirnya sadar; seberapa jauh kita melakukan perjalanan, kita akan selalu pulang ke rumah dan akan berkutat kembali dengan rutinitas kehidupan.
Hal ini merupakan isyarat bahwa seberapa pun lamanya kita hidup di dunia--apa pun yang kita punyai, seberapa banyak pun harta yang kita miliki--suatu saat kita akan kembali ke sisi-Nya. Agar kita (dan hati kita) bisa dengan tenang kembali ke sisi Tuhan, kita perlu mencari bekal dalam kehidupan ini. Dan itu bukan hanya harta atau pengalaman menjelajah dunia. Namun juga pemahaman mengenai sejatinya diri, hidup, dan kehidupan.

Singkat kata, yang perlu melakukan perjalanan dan mengalami pendewasaan bukanlah fisik belaka, tapi juga mental serta spiritual kita.

Ketiga, dengan membaca dan menyelami pengalaman perjalanan, kami berharap banyak pengalaman mengenai hidup dan kehidupan yang kami dapat--lalu kami bagikan kepada sesama.



Sekian perkenalan dari kami,
Niratisaya dan Tsaidun
Perwakilan Tim Supratraveling